Blog
Kisah Tiga Mata Air di Tegalrejo yang Terancam Pertambangan

Kisah Tiga Mata Air di Tegalrejo yang Terancam Pertambangan

Tiga sumber mata air yang dimanfaatkan warga Dusun Tegalrejo, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, sedang terancam. Pasalnya, warga mendapat kabar kalau bukit di sekitar tempat tinggalnya akan ditambang untuk material jalan tol. Masa-masa sulit karena kekeringan kembali menghantui warga, jika penambangan benar terjadi.

Pagi-pagi sekali, Ida sudah memasak air untuk kebutuhan minum keluarganya. Setiap hari ia melakukannya sebelum memasak nasi, lauk, dan mencuci pakaian. Ida bersama anak dan suaminya harus mengangkut air dari sumur tetangga yang berjarak sekitar 100 meter dari rumah.

Ia telah menjalani rutinitas ini sejak menikah dengan Sariman puluhan tahun lalu.  “Penderitaannya” baru berakhir tahun 2017. 

“.. sengsara, Mas, ngambil air jauh. Buat masak berkali-kali, 1 hari tidak cukup 35 kali (angkut) atau 70 ember,” ujar Ida.

Air sebanyak itu tidak cukup bila digunakan untuk mencuci pakaian yang banyak jumlahnya. “Kalau saya kecapekan kan cuciannya dibawa ke bawah,” tambah Ida sambil menggendong cucunya. 

Ida bukan satu-satunya ibu rumah tangga yang mengalami pahitnya musim kemarau. Semi, tetangganya, mengalami hal yang sama.

Sehari-hari, Semi yang tinggal bersama suaminya, Ngadino, memanfaatkan air dari sumur di mushola. Jaraknya sekira dua puluh meter dari kediaman mereka. Saat musim kemarau, debit airnya sedikit, sehingga Semi tidak melakukan pekerjaan yang membutuhkan banyak air di rumah.

“Kalau sumur kering, saya mengambil air dari sumber di dekat sungai. Mencuci baju juga saya lakukan di dekat sungai karena air sumur tidak mencukupi,” tutur Semi.

Kekeringan juga berdampak pada pertanian. Ngadino yang seorang petani mengaku harus mencurahkan tenaga, waktu, dan modal lebih banyak agar air dapat mengaliri sawahnya saat musim kemarau.

Ida sedang mempersiapkan makanan untuk keluarganya. (Dokumentasi Gono)

Ngadino memiliki sawah tadah hujan yang biasanya hanya bisa ditanami sekali saat musim hujan. Saat musim kemarau, ia menggunakan pompa untuk menyedot air sungai agar sawahnya tetap basah.

Saat debit air sungai kecil, ia tidak menggunakan mesin pompa. Ia membendung aliran sungai secara manual dan kemudian mengalirkannya melalui pipa ke sawahnya.

Air Mengalir ke Pemukiman

Pengalaman kesulitan air menahun serta kebiasaannya membendung air sungai untuk mengairi sawah, memantik kesadaran Ngadino. Posisi sungai yang tinggi memungkin airnya dialirkan ke sawah, rumah-rumah penduduk, dan mushola.

“Saya punya ide saat membendung air dari curug. Air dari sana kan bisa dialirkan tanpa menggunakan tenaga listrik. Lha, ini sama-sama ngambil air, sekalian cari sumber air yang bisa dipakai mengairi sawah, dipakai minum, dan untuk mushola,” tuturnya.

Namun, karena air sungai tidak jernih dan nampaknya kurang layak untuk dikonsumsi, Ngadino memanfaatkan sumber mata air di sekitar sungai. Ia mulai melakukan hal ini sejak tahun 2017.

Ngadino membeli pipa sendiri. Ia memasangnya dari sumber mata air hingga ke bak kamar mandi rumahnya. Air mengalir tanpa daya listrik karena memanfaatkan gaya gravitasi.

Warga di Tegalrejo pun mengikuti apa yang dilakukan Ngadino. Sariman, ketua kelompok tani menceritakan dalam suatu musyawarah warga setiap bulan, topik utama yang diperbincangkan adalah memanfaatkan sumber air di pinggir sungai dengan memanfaatkan gaya gravitasi.

“Warga itu pada rembukan, intinya, ayo bareng-bareng menggunakan air dari sini,” kata Sariman, saat bercerita di lokasi sumber air.

Forum itu memutuskan untuk membendung air sungai dan menyemen tepian dan bagian atas sumber mata air. Tujuannya agar melindungi dari guguran daun pepohonan sekitar dan luapan air sungai.

Selain itu, forum juga menentukan rumah warga yang akan dialiri air. Pipa dibeli oleh masing-masing warga dan yang tidak mampu dibantu bersama-sama.

Saat keputusan forum dijalankan, warga menemui kendala, salah satunya soal dana untuk mengganti toren (bak penampungan air) berkapasitas lebih besar. Warga kembali urunan dan ditambahi oleh Harsono, seorang warga yang bekerja di Departemen Pertanian.

Sariman yang banyak terlibat dalam urusan air tidak tahu apakah uang dari Harsono itu merupakan sumbangan dari dinas atau pribadi.

“Dana yang sebagian besar dari Pak Harsono digunakan untuk membeli toren berkapasitas 5000 liter air,” ujarnya.

Setelah tiga tahun, jumlah rumah tangga yang memanfaatkan sumber air buatan warga ini makin meningkat. Kemudian warga memutuskan untuk mengakses program pemerintah, yaitu Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).

Sariman sedang membuka tutup sumber mata air mandiri. (Dokumentasi Gono)

Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Agus Subaryanto, yang dikutip dari Jawapos (4/9/20), mengatakan Pamsimas telah dianggarkan dalam APBN dan APBD 2020 sebesar Rp 2,4 milyar. Riciannya, APBN sebesar Rp 1,9 milyar, dan APBD Rp 490 juta. Sedangkan sasarannya adalah 10 desa di Kabupaten Gunungkidul.

Anggaran Pamsimas dari APBN disalurkan untuk 8 Desa, salah satunya Desa Tegalrejo. Di desa ini ada dua dusun yang menerima dana Pamsimas sebesar Rp 245 juta, yaitu Dusun Tegalrejo dan Dusun Cermo.

Sambil duduk di batu di pinggir sungai, Sariman mengatakan dana program Pamsimas itu tidak untuk membiayi warga membuat sumur. Dana itu digunakan untuk membuat tempat duduk bagi dua toren berkapasitas 5000 liter air dan sisanya, sekira 30 persen untuk upah warga setempat yang mengerjakannya.

Setelah air dialirkan dari sumber air ke toren selanjutnya dibagi ke rumah-rumah penduduk dengan menggunakan pipa. Ada banyak pipa yang mengular di tepi jalan di Dusun Tegalrejo. Warga pun gembira.

“Tinggal putar, air keluar. Kita nyuci itu paling gampang sendiri, paling penak dewek [paling enak sendiri]. Bisa duduk, sembari gendong juga bisa, kalau dulu ngga bisa,” ungkap Ida sambil terkekeh.

Merayakan Air di Lahan Sawah

Jika kebutuhan air untuk rumah tangga dapat dipenuhi dari sumber air mandiri dan Pamsimas, lain ceritanya dengan lahan pertanian. Saat musim kemarau, warga memanfaatkan bendungan sungai atau dam parit untuk menampung dan mengalirkan air sungai ke lahan persawahan. Dam parit dibangun tahun 2020 dan bentuknya berupa cor-coran semen berlapis batu dengan lebar 1,5 meter dan panjang 6 meter yang menutupi badan sungai.

Dam parit memudahkan petani mengalirkan air ke sawahnya. Salah seorang petani, Wiji mengatakan ongkosnya juga lebih murah dibandingkan dengan menggunakan mesin pompa karena harus membeli bahan bakar. Petani tinggal menyalurkan air melalui pipa yang harus dibeli dan dipasang secara swadaya.

“Sekarang sudah ada paralon, modalnya cuma sekali yang bisa mengalirkan air dari sana,” ujar Wiji sambil menunjuk ke arah dam parit di dekat sawahnya.

Ia mengatakan harga pipa juga mahal. Satu batang pipa ukuran empat meter harganya Rp 40 ribu. Namun, Wiji memilih mengeluarkan uang lumayan besar sekali untuk jangka waktu lama, dari pada harus membeli bensin setiap menyedot air sungai yang jatuhnya jauh lebih mahal.

Setelah air sungai bisa mengalir ke lahan persawahan, para petani mempunyai harapan baru. Ngadino memangkas sedikit bukit di belakang rumahnya untuk lahan sawah. Sedangkan Warno menebangi pohon jati di lahannya agar bisa dijadikan sawah.  Pohon jati adalah tanaman keras yang banyak ditanam di lahan-lahan tegalan di Dusun Tegalrejo.

Saat kami datang, suara gergaji mesinnya terdengar ke setiap sudut dusun. Kami mendatangi Warno untuk memperkenalkan diri dan mengajaknya ngobrol. Ia sedang berjongkok di lahan sawah belakang rumahnya sambil memilih benih padi untuk ditanam esok hari.

Warno termasuk sesepuh di Dusun Tegalrejo karena usianya hampir 85 tahun. Kala itu, seperti kebanyakan pemuda di dusunnya, Warno menghabiskan masa muda dengan menjadi buruh kasar di kota. Meski upahnya kecil, ia tak mau pulang kampung karena tanah di kampungnya tidak bisa digarap.

Pohon jati yang memenuhi lahan tegalan menyebabkan tanah kering karena jati tidak dapat menyimpan air. Butuh kesabaran untuk memulihkan lahan agar dapat ditanami. Waktu itu kesabaran bukan watak kebanyakan pemuda, termasuk Warno muda.

Setelah berumah-tangga dan usianya makin bertambah, Warno memutuskan pulang dan mengolah beberapa petak lahan tadah hujan di belakang rumahnya. Selama puluhan tahun, ia menanami lahan sawahnya saat musim penghujan dan menggantinya dengan tanaman kacang serta umbi-umbian saat memasuki kemarau.

Kami memahami mengapa Warno sangat antusias menyambut “kedatangan” air ketika dam parit selesai dibangun. Ia rela mengubah tegalannya yang didominasi pohon jati menjadi lahan sawah.

Kali ini, sawah bisa ditanami dan panen dua kali dalam satu tahun.

Warno sedang menanami padi di sawah miliknya. (Dokumentasi Gono)

“Harapannya, mungkin tambah maju gitu lho. Selama setahun ini, (air) bisa masuk dua kali. Sebelum masuk air ini (panen) cuma satu tahun sekali,” ujar Warno.

Dam parit juga mengembangkan usaha peternakan. Sugiyo turut “merayakan” kedatangan air dengan beternak lele, kelinci, dan sapi di sekitar rumahnya. Meski harus merangkai pipa sepanjang satu kilometer, Sugiyo meyakini ongkos yang ia keluarkan tidak sia-sia.

Ancaman Tambang Muncul

Sayang, kegembiraan warga menyambut kemudahan akses air bersih diganggu dengan rencana proyek pertambangan galian C di desanya. Kepala Dusun Tegalrejo, Seman mengatakan rencana itu belum pasti dan masih simpang-siur.

Tetapi rencana proyek pertambangan itu sudah menjadi perbincangan warga. Ada orang-orang tidak dikenal datang dan melayangkan penawaran kepada warga agar menjual lahan miliknya. Orang-orang tak dikenal itu adalah calo tanah.

Nantinya lahan-lahan yang dibeli itu akan diambil tanah dan batuannya sebagai material urug pembangunan jalan tol. Tetapi warga belum tahu jalan tol yang mana.

Warga Tegalrejo khawatir pertambangan akan merusak lingkungan di desa. Saat ini, banyak warga sudah tergiur rayuan para calo tanah agar menjual tanahnya.

Seman menjelaskan sejumlah lahan yang telah ditawarkan kepada para calo itu tersebar di punggung bukit, persis di atas tiga sumber air yang kehadirannya belum lama dirayakan warga: tuk (mata air) yang dibuat secara mandiri oleh warga, tuk air Pamsimas, dan dam parit.

“Karena tanahnya mau dijual untuk diambil material (dikeruk), pohon-pohonnya ditebang dahulu”, kata Seman.

Tumbangnya pepohonan di punggung bukit itu menyebabkan tanah rentan longsor. Bahkan material longsoran tanah sudah mulai berjatuhan ke badan sungai dan mengendap di bibir bendungan dam parit.

Seman khawatir longsoran berskala besar akan terjadi bila aktivitas pertambangan mulai terjadi di desanya. Dampaknya adalah pendangkalan sungai sehingga mengurangi debit air sungai yang mengaliri lahan-lahan pertanian milik warga. Guguran tanah dan batuan juga berpotensi menimbun tuk-tuk air yang digunakan memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Kegetiran nampak dari wajah Seman ketika membayangkan  semua dampak itu. Ia mengatakan setiap proyek, khususnya proyek pertambangan, mesti ada nilai baik dan buruknya.

“Namun, plus bagi siapa dan minus bagi siapa”, tegasnya.

Seman mengatakan dampak buruk aktivitas pertambangan bukan hanya menimpa dirinya dan generasi sekarang di desanya. Pada masa depan, anak-cucu juga ikut menanggung akibat rusaknya bentang perbukitan di Dusun Tegalrejo.

Dua orang anak berlarian di atas bebatuan di sungai yang mengaliri lahan persawahan warga. (Dokumentasi Gono)

Tentu kisah warga yang kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan rumah tangga dan lahan pertanian akan muncul lagi. Tiga sumber mata air di dusun itu terancam mati karena tertimpa longsoran tanah akibat pertambangan.

Tawa Ida, rasa syukur Sugiyo, harapan Warno, dan jejak Ngadino bersama rencana warga terancam jadi kisah yang indah pada masa lalu saja. Haruskan pertambangan selalu menyengsarakan warga yang tinggal di sekitarnya?


W U

0

Leave a Reply

Your email address will not be published.