Blog
Merayakan Lahirnya Kembali Mata Air Umbul Komplet

Merayakan Lahirnya Kembali Mata Air Umbul Komplet

Rombongan orang dengan mengenakan pakaian adat Jawa, lengkap dengan sesaji di tangan mereka, menyusuri jalan setapak menembus pepohonan Hutan Wanagama, Playen, Gunungkidul, Yogyakarta. Tidak berselang lama, beriak air lirih yang mengalir melalui anak-anak parit kecil menyambut perjalanan mereka. Aliran parit itu berhulu di sebuah mata air yang begitu jernih.

Sesampainya di bibir mata air, rombongan itu bergegas duduk melingkar. Sesaji berupa buah pepaya, pisang, nanas, kopi, jenang (merah, putih, kuning, hijau, dan hitam), kemenyan, serta beberapa makanan lain, segera mereka tata di bibir mata air.

Sirin Farid Stevy, pegiat Komunitas Resan Gunungkidul, menuturkan bahwa hari itu (Sabtu, 23 April 2022) mereka sedang menyelenggarakan upacara slametan (selamatan) atas lahirnya kembali mata air Umbul Komplet, tepatnya berada di Petak 17 Wanagama, Dusun Banaran II, Playen. Mata air Umbul Komplet telah lama berhenti menyembur sejak gempa bumi yang melanda Yogyakarta tahun 2006 silam.

Para pegiat Komunitas Resan Gunungkidul sedang bersiap menggelar upacara selamatan (Dokumentasi Bebe).

Keberadaan mata air Umbul Komplet, tutur Farid, mereka ketahui ketika Komunitas Resan Gunungkidul menggelar kegiatan penanaman pohon di kawasan Hutan Wanagama pada 12 Februari 2022. Kegiatan penanaman pohon, memang telah menjadi kegiatan rutin yang digelar oleh komunitas yang bergerak di bidang konservasi lingkungan ini.

Selepas menggelar kegiatan penanaman itu, mereka mendapat informasi dari warga setempat tentang keberadaan mata air Umbul Komplet. Ketika berkunjung ke lokasi, mata air itu telah rata dengan tanah serta tertutup rerumputan dan ilalang.

Komunitas Resan Gunungkidul bersama warga Banaran kemudian membersihkan lokasi mata air dan menggali tanah sedalam kurang lebih satu setengah meter. Perasaan ragu bercokol di benak mereka karena belum kunjung menemukan tanda-tanda air akan dapat menyembur kembali. Pasalnya, tutur Farid, ketika melakukan penggalian mata air di tempat lain, mereka akan langsung menjumpai (sisa-sisa) lumpur yang menjadi salah satu penanda bahwa mata air masih dapat dihidupkan kembali.

Namun, berbeda di Umbul Komplet. Setelah melakukan penggalian, tidak ada lumpur yang mereka temui; yang nampak hanyalah struktur tanah kering, diliputi bebatuan sebesar kepala orang dewasa, serta lapisan pasir tipis.

“Jadi, kayak hampir seperti tidak ada harapan untuk bisa muncul air kembali,” tutur Farid saat kami jumpai selepas upacara selamatan.

***

Sekira lebih dari satu bulan setelah penggalian, berhembus kabar yang merobohkan perasaan ragu di benak mereka tentang masa depan mata air Umbul Komplet. Akhirnya, mata air yang telah berhenti berfungsi sekira 16 tahun itu dapat kembali menyemburkan air. Debit air mengalir deras memenuhi lubang yang telah mereka gali dan meluap mengaliri parit-parit kecil. Perasaan ragu berganti menjadi haru seiring dengan datangnya kabar tersebut.

Tidak ada yang menduga, semburan pertama mata air itu jatuh tepat pada Hari Air Sedunia, yakni 22 Maret. Hari Air Sedunia diperingati oleh sebagian besar warga dunia sebagai wujud dari kesadaran serta upaya untuk mencegah terjadinya krisis air bersih. Air memang menjadi kebutuhan pokok manusia serta makhluk hidup lainnya. Namun, saat ini air bersih telah menjadi barang langka di berbagai wilayah.

Dua dusun di Desa Srumbung, Magelang, Jawa Tengah, misalnya, hampir satu tahun berjibaku memperoleh air bersih, karena mata air yang digunakan warga telah rusak akibat industri pertambangan pasir dan batu yang mengepung desa mereka (walhi-jogja.or.id, 1/2/22) . Krisis air juga melanda sejumlah wilayah di Gunungkidul, seperti di Kecamatan Rongkop dan Girisubo (kompas.com, 20/8/21). Ketika musim kemarau tiba, warga mesti memasok air bersih melalui tangki-tangki yang diperoleh dari sejumlah wilayah sekitarnya.

Di tengah krisis air itu, kembalinya mata air Umbul Komplet tentu menjadi kabar yang membahagiakan.

***

Pada sore hari Sabtu (23/4) yang teduh di bawah rindangnya pepohonan itu, puluhan orang yang telah duduk melingkar di bibir mata air Umbul Komplet dengan seksama memanjatkan doa kepada Tuhan yang mereka yakini telah memberikan kekuatan mengembalikan mata air tersebut. Doa-doa itu membumbung bersama asap kemenyan, menyelimuti seisi lokasi upacara selamatan. Selepas doa-doa dipanjatkan, salah seorang yang memimpin jalannya upacara melepaskan sepasang burung perkutut sebagai bagian dari simbol rasa syukur.

“Kita sedang melaksanakan nadhar, syukuran, karena doa kami untuk munculnya air kemudian dijawab oleh Tuhan Yang Maha Esa,” tutur Farid.

Upacara selamatan, sebagai bagian dari tradisi lokal, tutur Edi Padmo, pegiat Komunitas Resan Gunungkidul, juga menjadi bagian dari perjuangan yang dilakukan oleh komunitas yang ia geluti tersebut. Komunitas Resan Gunungkidul seringkali membalut kegiatan konservasi lingkungan dengan nuansa budaya lokal.

“Jadi, kita pendekatannya memang lewat ritual upacara budaya lokal,” tutur Edi saat kami jumpai selepas upacara selamatan.

Edi menuturkan, pada dasarnya, nilai-nilai yang terkandung di dalam budaya lokal mengajarkan kepada manusia untuk menjaga alam—alam yang Edi maksud ialah lingkungan atau entitas yang bukan manusia (seperti hutan, air, hewan, batuan, maupun tanah).

Pemimpin upacara sedang memanjatkan doa di bawah pohon besar di bibir mata air (Dokumentasi Bebe).

Namun ia menyayangkan, kesadaran menghargai alam terus mengalami kemunduran, khususnya di kalangan generasi muda. Baginya, hal ini tak lepas dari makin tergerusnya nilai-nilai budaya dalam kehidupan masyarakat.

Ia mencontohkan, “jadi, yang saya katakan kemunduran tadi tentang menghargai alam itu, ketika sumber air gak dipakai, gak dirawat, terus biasanya keurug, terus ditanami apa, tempat pembuangan sampah dan lain-lain,” tuturnya.

Itulah yang menjadi alasan mengapa Komunitas Resan Gunungkidul menggunakan pendekatan budaya lokal dalam kegiatan konservasi lingkungan yang mereka kerjakan. Edi berharap, pendekatan budaya dapat menjadi cara untuk membangkitkan kembali kesadaran masyarakat untuk menjaga alam.

Upacara selamatan ditutup dengan melepaskan sejumlah yuyu (kepiting air tawar) ke dalam mata air. Harapannya, kepiting itu dapat berkembang biak dengan tujuan untuk membentuk ekosistem awal. Setelah kepiting berkembang, mereka akan melepaskan sidat air tawar yang memiliki kemampuan menggali serta memperbesar urat air di dalam tanah sehingga debit mata air Umbul Komplet dapat terjaga. Sementara, kepiting akan menjadi sumber makanan bagi sidat tersebut.

Di samping itu, Edi menyampaikan bahwa ketika pohon-pohon (seperti Pohon Beringin (Ficus benjamina), Pohon Kepuh (Sterculia foetida), serta Pohon Bulu (Ficus balabacensis)) yang telah lebih dahulu mereka tanami di sana sudah mulai berkembang, akan berfungsi sebagai penopang keseimbangan ekosistem di kawasan mata air itu.

Mengembalikan dan merawat ekosistem mata air Umbul Komplet menjadi prioritas yang akan mereka kerjakan beberapa waktu ke depan.

Sepanjang perjalanannya, sudah tujuh sumber mata air di beberapa daerah di Gunungkidul yang berhasil dikembalikan oleh Komunitas Resan Gunungkidul. Menurut Edi, mengembalikan dan merawat sumber-sumber mata air, pada dasarnya, dapat menjadi jawaban di tengah persoalan kekeringan pasokan air di sejumlah wilayah di Gunungkidul. Ia menegaskan, hal itu bisa terwujud asalkan ada komitmen bersama dari beragam elemen untuk mengerjakannya.

“Itu kan sebetulnya jawaban, toh, soal air di Gunungkidul, kalau kita mau kerja bareng-bareng,” tuturnya.

***

Merawat sumber mata air menjadi salah satu bagian dari merawat kelestarian alam. Setidaknya, bagi Edi, ada dua hal yang mendasari mengapa manusia mesti merawat alam.

Pertama, merawat alam sama halnya dengan menjaga keseimbangan hidup. Dengan mengutip salah satu nilai yang diajarkan dalam agama yang ia yakini, Edi menyampaikan,

“Dalam kepercayaan saya, Islam, itu hablum minallah, hablum minannas. Jadi, bagaimana hubungan antar manusia dan hubungan manusia dan Tuhan,” tuturnya.

Kedua, alam menjadi sumber kehidupan manusia di dunia. Alam, baginya, layaknya seorang ibu yang melahirkan dan merawat anaknya.

“Peradaban itu lahir dari rahim bumi, apapun itu; manusia hidup dari apa yang ditumbuhkan bumi,” tuturnya.

Karena itu, ia kembali menegaskan bahwa manusia mesti menghormati alam dengan merawat dan tidak merusaknya.


Bayu Maulana, Bintang Hanggono & Viky Arthiando

0

Leave a Reply

Your email address will not be published.