Basic Environmental Training 4

KOLONI: Perlindungan dan Pengelolaan Sumber - Sumber Air

Diskusi tematik kali ini diikuti perwakilan berbagai lembaga/komunitas diantaranya BLH DIY, BLH Kota Yogyakarta, Komunitas Kopi Liar, Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UMY, CD Bethesda, Dinas PUP ESDM, Pers Mahasiswa BPPM Balairung UGM, mahasiswa ISI Yayasan Sheep Indonesia serta dari komunitas Sahabat Lingkungan. Bertempat di Kantor WALHI Yogyakarta, tema yang dipilih untuk diskusi kali ini adalah air, dengan mengambil judul ‘ Perlindungan dan Pengelolaan Sumber – Sumber Air’.

Dalam diskusi ini diundang seorang narasumber dari kalangan akademisi, yaitu Bapak Agus Maryono dari Teknik Sipil UGM. Ilmu dan pengalaman lapangan beliau dalam kegiatan perlindungan dan pengelolaan sumber air yang cukup luas baik di dalam negeri maupun luar negeri telah membukakan mata peserta diskusi pada hari bagaimana seharusnya sumber-sumber air yang kita miliki dijaga dan dikelola dengan baik. Sumber – sumber air tersebut mulai dari sungai, kawasan resapan yang di DIY adalah Kawasan Lereng Merapi hingga memaparkan tentang mengembangkan ide memanen air hujan, baik untuk dimanfaatkan atau hanya sekedar ditahan sementara untuk dikembalikan kedalam tanah. Ide memanen air hujan sebenarnya sudah dilakukan masyarakat di Kabupaten Gunungkidul cukup lama, terutama untuk daerah yang sulit akses air tanahnya. Beliau memaparkan hasil penelitian beliau mengenai kualitas air hujan di Yogyakarta yang menunjukkan angka layak konsumsi.

Diskusi berlangsung menarik karena peserta yang hadir saling berbagi ilmu dan pengalaman mereka, baik secara akademik maupun pengalaman di lapangan. Ini menunjukkan bahwa air memang adalah kepedulian semua orang tanpa terkecuali, sehingga setiap orang menunjukkan kepeduliannya. Namun hingga saat ini, anacaman kerusakan sumber – sumber air tersebut masih terjadi. Hal ini karena berbagai kepedulian dan aksi perlindungan dan penyelamatan belum dilakukan secara kolektif, terintegrasi dan menyeluruh antar komunitas, lembaga baik swasta maupun pemerintah dan antar sektor termasuk sector pendidikan sehingga keberhasilan berbagai upaya tersebut masih dirasa nihil, mengingat aktivitas manusia yang merusak bersifat dinamis dan cenderung meningkat. Demikian beberapa bagian yang terungkap dalam diskusi.

Dalam diskusi yang dihadiri oleh perwakilan dari pemerintah ini pun muncul beberapa wacana terkait upaya perlindungan dan pengelolaan sumber – sumber air yang mungkin dapat dilakukan, terutama untuk membangun gerakan yang kolektif, terintegrasi dan menyeluruh. Berikut beberapa catatan penting dalam diskusi yang berlangsung pada hari Jum’at tanggal 20 Maret 2015 tersebut:

  1. Sistem pengelolaan yang selama ini bersifat kewilayahan, harus diperbaiki yaitu dengan pengelolaan hulu – hilir, mikro – makro. Hal ini sudah mulai terlihat saat ini di DIY
  2. Perkembangan peri urban harus diikuti (termasuk daerah perkotaan tentunya), harus ada yang berani mengingatkan, ada instrument pencegahan dengan mengedepankan, memelihara atau menghidupkan kembali kearifan lokal/ budaya setempat
  3. Harus ada langkah preventif, yaitu mengembalikan ekosistem sungai termasuk morfologinya, mengacu pada UU Lingkungan Hidup (UU nomor 32 tahun 2009) dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tahun 1990
  4. Keberadaan talud perlu dievaluasi, karena dapat disalah artikan dan dianggap melegalkan orang menjarah ekosistem sungai (perlu diluruskan bahwa talud bukan tanggul)
  5. Penting untuk menyesuaikan teknologi pemanfaatan air sesuai generasi. Namun hal ini menjadi kontroversial karena dikhawatirkan menghilangkan kearifan lokal
  6. Pemanfaatan air hujan untuk konsumsi, atau menahannya lebih dahulu untuk mengembalikaannya ke tanah
  7. Pemanfaatan air hujan melalui sistem Penampungan Air Hujan (PAH) dapat diawali oleh SKPD, kemudian dikembangkan oleh hotel – hotel. Bagaimana jika kemudian menjadikan adanya PAH dan sumur resapan menjadi salah satu parameter Green Hotel dan atau dalam penilaian dokumen lingkungan (UKL-UPL/ AMDAL)?
  8. Perlu dikembang Student Goes to River, mengingat Jogja sebagai Kota Pelajar. Pelajar terutama mahasiswa harus mampu menjadi solusi bagi permasalahan disekitarnya, salah satunya permasalahan sungai
  9. Dikembangkannya pemanfaatan air hujan untuk pengembangan kesejahteraan/ekonomi masyarakat kawasan perkotaan, misalnya untuk pemeliharaan ikan, dll

 Terkait upaya pemanfaatan air hujan, BLH DIY dapat menindaklanjutinya melalui koordinasi dengan SKPD terkait seperti Dinas Kesehatan, dan lainnya. Tentu berbagai wacana dan masukan yang muncul dalam diskusi ini menjadi masukan yang berharga dalam upaya Pengelolaan dan Perlindungan Sumber – Sumber Air. Air adalah kebutuhan bersama, maka sudah seharusnyalah menjadi kewajiban bersama untuk melindungi, menjaga dan mengelolanya.

 

Selamat Hari Air 2015. Salam Adil dan Lestari!

Xbanner1

Jl. Nyi Pembayun 14 A Karang Samalo Kotagede Yogyakarta 55172 T/F: +62 274 378631