Basic Environmental Training 4

Sungai dan Sampah

Sungai merupakan salah satu sumber air. Jika kita lihat sejarah peradaban manusia, salah satu peradaban yang berkembang adalah peradaban kawasan tepi sungai. Ingatkah peradaban 'Tigris' dan'Eufrat'?

Dahulu peradaban yang berkembang di kawasan tepi sungai adalah pertanian. Kawasan sungai perkotaan saat ini pun manjadi pusat aktivitas manusia. Namun disayangkan, perkembangan aktivitas tersebut cenderung merusak ekosistem sungai. Jika kita lihat sungai perkotaan saat ini tidak lagi menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitarnya. Airnya sudah tidak bisa dikonsumsi, ikannya tidak lagi menjadi sumber protein, dan kawasannya tak lagi aman menjadi tempat bermain dan bersosialisasi. Apa gerangan yang terjadi?

Permasalahan utama sungai perkotaan saat ini adalah limbah, salah satunya adalah sampah sebagai limbah padat. Hal ini tentu tidak bisa lepas dari kurang nya ketegasan dalam penegakan aturan, terutama aturan tata ruang yang tidak bisa lepas menimbulkan berbagai rentetan pelanggaran lingkungan lainnya.

Melakukan apa yang bisa dilakukan, mulai dari diri sendiri, mulai hal yang kecil dan mulai saat ini untuk memeliharan sungai sebagai salah satu sumber air itulah yang kemudian menjadi semangat diadakannya pelatihan pengelolaan sampah. Pelatihan diadakan di RT 34 RW 8 Warungboto Kecamatan Umbulharjoyang merupakan daerah bantaran sungai Gadjah Wong, dan masuk sebagai wilayah kelola Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai (FORSIDAS) Gadjah Wong. Dipilihnya daerah bandaran sungai, karena bagaimanapun sungai merupakan wajah kota. Sungai yang terpelihara dan bersih, mau tidak mau menjadi cerminan masyarakatnya. Hal ini juga menjadi salah satu upaya untuk mendorong perlindungan dan pengelolaan sungai, sebagai salah satu sumber air.

Pelatihan yang dilaksanakan selama tiga hari (17 - 19 Maret 2015) terdiri atas tiga materi utama, yaitu manajemen pengelolaan sampah, pengolahan sampah anorganik dan pengoalahan sampah organik. Hal yang sangat ditekankan dalam pelatihan ini adalah bagaimana mengurangi dihasilkannya sampah terutama yang tidak mampu diurai oleh alam melalui pola hidup ramah lingkungan. Untuk sampah - sampah yang memang harus dihasilkan, perlu diolah dengan mengedepankan prinsip pemilahan. Tidak berhenti sampai disitu, peserta juga diajak untuk berdialog tentang bagaimana manajemen pengelolaan sampah tingkat kelompok atau komunitas. Dan inilah yang penting untuk didorong.

Bersama Bu Marta Yenny Anggraheni Kusumasari yang lebih akrab disapa Mbak Yenny terkait manajemen pengelolaan sampah dan pengolahan sampah organik, serta Bu Tri Rukmiyati terkait pengolahan sampah anorganik, peserta yang sebagian ibu - ibu tersebut sangat antusias belajar tentang pengelolaan sampah. Pada sesi terakhir, peserta pun didorong untuk menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) agar pelatihan ini bisa benar - benar bermanfaat.

Sekali lagi, penekanan pelatihan ini adalah bagaimana peserta menerapkan pola hidup ramah lingkungan dan berupaya untuk mengurangi sampah yang dihasilkan, serta mengelola sampah yang tidak bisa dihindari untuk dihasilkan agat tidak mencemarilingkungan, salah satunya sungai yang menjadi ekosistem mereka.

Namun perlu diingat pula bahwa jika kita menelusuri Undang - undang (UU) nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, tidak hanya pemerintah dan masyarakat yang punya kewajiban mengelola sampah. Perusahaan sebagai produsen yang membuat dan mengedarkan berbagai bahan yang berpotensi menjadi sampah yang tidak dapat diurai oleh alam itu pun punya kewajiban terhadap sampah - sampahnya. Namun sejauh ini, perusahaan lebih cenderung menngunakan aktivitas CSR nya untuk mengklaim kewajibannya ini. Untuk selanjutnya, masih masyarakat yang terus didorong untuk mengelola sampah. Padahal jika dibandingkan, berapa sampah yang dihasilkan dan seberapa besar kemampuan masyarakat mengelola? Semoga ini menjadi renungan kita bersama.

 

Selamat Hari Air 2015 (22 Maret). Salam Adil dan Lestari!

Xbanner1

Jl. Nyi Pembayun 14 A Karang Samalo Kotagede Yogyakarta 55172 T/F: +62 274 378631