Basic Environmental Training 4

Siaran Pers: PDLH WALHI Yogyakarta 2013

Pertemuan Daerah Lingkungan Hidup Indonesia (PDLH) 2013

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Yogyakarta

 

“Membangun Yogyakarta yang berkeadilan 

untuk pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan”

 

Yogyakarta yang terbagi atas 3 (tiga) kawasan strategis, yaitu : bagian utara sebagai kawasan penyangga, sebagai sumber air bawah, tempat berusaha warga dan keanekaragaman hayati. Bagian tengah merupakan kawasan pusat pemerintahan atau institusi, pusat perdagangan, jalur utama transportasi dan perumahan. Dibagian selatan merupakan kawasan pesisir, laut dan langsung berhadapan dengan Samudera Indonesia (Hindia). Dimana 3 kawasan strategis merupakan konsep dasar untuk pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan sesuai dengan falsafah “Hamemayu Hayuning Bawono”. Sri Sultan Hamengku Buwono IX  secara utuh menerapkan filosofi Hamemayu Hayuning Bawono, dalam mensejahterakan rakyatnya.

Filosofi tersebut dilanjutkan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sekarang (2012 - 2017) dengan mewujudkan Yogyakartakarta sebagai pusat pendidikan, budaya dan daerah tujuan wisata terkemuka, mengupayakan lingkungan masyarakat yang sehat, bersih dan maju, mandiri, sejahtera lahir batin. Hal ini didukung oleh tata kelola pemerintahan yang bersih dan pengelolaan sumber daya yang ada secara optimal, menuju kepada terciptanya pembangunan yang berkelanjutan (ekonomi, sosial dan lingkungan).

Bagian wilayah utara yang bertumpu pada kawasan gunung merapi sebagai kawasan penyangga, sumber air bawah, tempat berusaha warga dan keanekaragaman hayati, mengalami perubahan siginifikan paska erupsi merapi tahun 2010 lalu, khususnya dalam ekosistem dan peruntukan lahan pada area kawasan terdampak dari letusan (erupsi) merapi. Upaya penataan kawasan merapi pasca erupsi tahun 2010 lalu yang berbasis pada 3 aspek, kebencanaan, ekosistem dan sosial budaya, perlu mendapat pengawalan secara terus menerus sehingga prinsip keselamatan dan berkeadilan pada kawasan merapi mampu di wujudkan kedepan dengan skema Hidup Selaras Bersama Ancaman (HSBA) yang saat ini telah dilakukan oleh masyarakat Desa Glagaharjo,dengan menerapkan 3 kerangka aksi : Antisipasi, Aksi dan Adaptasi.

Pada kawasan perkotaan, penerapan rencana pembangunan yang berfokus pada perkembangan kota sebagai pusat pertumbuhan ekonomi semata dengan menghadirkan investasi yang besar pada industri padat modal, berimplikasi pada basis sumber daya lokal Yogyakarta terpinggirkan karena kota Yogyakarta tidak mampu menampung hasil bumi dari masyarakat lokal Yogyakarta sendiri. Upaya untuk memperbaiki dan mendorong kota Yogyakarta sebagai salah satu kota ramah lingkungan di Indonesia dan dunia harus menjadi prioritas dengan menjadikan kota Yogyakarta sebagai Kota Hijau dengan parameter yang jelas, misalnya dengan ketetapan UNEP ada 8 indikator (1)Green Planning and Design, (2) Green Community, (3) Green Open Space, (4) Green Waste, (5) Green Building, (6) Green Energy, (7) Green Water, dan (8) Green Transportation

Pada wilayah selatan yang merupakan kawasan pesisir dan laut yang langsung berhadapan dengan Samudera Indonesia (Hindia) mendapatkan ancaman  cukup serius dengan hadirnya investasi di wilayah pesisir selatan jawa. Proyek Trans selatan jawa disepanjang jalan 1.273,5 KM, pada wilayah Propinsi Yogyakarta berada pada + 46 desa. Dimana proyek ini pun di danai Utang ADB sebesar 500 juta US Dollar.  Proyek besar lainnya adalah Pertambangan Pasir besi berada di wilayah pesisir selatan Kabupaten Kulonprogo dengan dengan luas lahan 22km x1,8km atau 6,8% dari total luas kabupaten kulonprogo 586.27km2, pertambangan ini akan berimplikasi pada pemukiman dan pertanian produktif masyarakat yang mencapai 4.434 ha. Selain itu pertambangan ini juga terletak pada kawasan rawan bencana tsunami dan banjir. Artinya tingkat kerentanaan akan semakin tinggi dengan dibukanya investasi pada wilayah rawan bencana. 

Problem lain yang di hadapi oleh banyak masyarakat Yogyakarta adalah ancaman dampak dari perubahan iklim dimana siklus pertanian maupun aktifitas nelayan mereka terganggu akibat ketidakpastian iklim, yang berimplikasi pada kegagalan panen, kegagalan tambak udang, perubahan siklus musim tanam hingga penyesuaian jenis tanaman. Situasi ini yang memberikan pengaruh cukup besar terhadap sumber-sumber kehidupan masyarakat di wilayah Yogyakarta khususnya pada lahan pertanian. Oleh karenanya penting sekiranya rumusan strategi bersama dalam pengelolaan wilayah berbasis pada 3 kawasan merapi, pesisir dan perkotaan yang bertumpu pada potensi lokal guna melakukan adapatasi dan mitigasi dari ancaman ketidakpastian iklim. Agar aktifitas masyarakat tetap terus berjalan dalam mengelola sumber daya alam untuk keberlanjutan kehidupan mereka kedepan.

Salah satu bentuk reflekasi dan evaluasi bersama tentang kerja-kerja advokasi WALHI Yogyakarta guna mendapatkan satu resolusi penting guna mewujudkan  transformasi sosial menuju tatanan yang demokratis guna terwujudnya kedaulatan rakyat dalam  pengelolaan lingkungan sumber daya alam dan lingkungan yang berkeadilan dan keberlanjutan bagi masyarakat Yogyakarta, kami akan menyelenggarakan Kegiatan Publik pada tanggal 27 Juni 2013 yang bertempat di Gajah Wong Education Park, Kampung Gambiran, Kelurahan Pandeyan, Kecamatan Umbulharjo Yogyakarta antara lain:

1. Dialog Nasional Lingkungan Hidup ”Kota dan Masa Depan Bangsa”, jam 08.00 – 13.00 WIB dengan narasumber: WALHI Nasional, Kementerian Lingkungan Hidup, Akademisi dan Komunitas.

2. Sarasehan Budaya dan Lingkungan bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng ”Istimewakah Jogja? Dalam kontek Pengelolaan Lingkungan hidup”, yang akan dimulai pukul 19.00 – 24.00 WIB

Harapan dari Pertemuan Daerah lingkungan Hidup (PDLH) publik periode 2009-2013 ini akan berhasil menyatukan ide dan gagasan dari hasil refleksi bersama sebagai bagian dari konsolidasi dan koordinasi bagi semua lapisan masyarakat di Yogyakarta agar makin baik sekaligus sebagai tanggapan terhadap pembahasan rancangan Peraturan daerah Istimewa khususnya dalam pengelolaan tanah dan lingkungan serta Tata Ruang yang akan menjadi tolak ukur bagaimana pengelolaan lingkungan yang berkeadilan dan berkelanjutan dan WALHI Yogyakarta akan memposisikan diri sebagai Mitra Kritis dalam mengawal proses pembahasan tersebut.

 

Kontak Person:

Halik Sandera (0852 2838 0002)

Xbanner1

Jl. Nyi Pembayun 14 A Karang Samalo Kotagede Yogyakarta 55172 T/F: +62 274 378631