Wahana Lingkungan Hidup Indonesia - Yogyakarta

  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Beranda arrow Kegiatan arrow Memaknai Peringatan Hari Bumi, 22 April 2007
Memaknai Peringatan Hari Bumi, 22 April 2007
Monday, 23 April 2007

oleh : Wahyu Epan Yudistira

Tiga puluh tujuh tahun yang lalu, tepatnya pada 22 April 1970, Hari Bumi untuk pertama kalinya diselenggarakan di Amerika Serikat, atas prakarsa seorang senator, Gaylord Nelson. Embrio gagasan Hari Bumi dimulai sejak ia menyampaikan pidatonya di Seattle tahun 1969, tentang desakan untuk memasukkan isu – isu kontroversial, dalam hal ini lingkungan hidup, dalam kurikulum resmi perguruan tinggi mengikuti model teach in mengenai masalah anti perang. Gagasan Nelson ini mendapat dukungan yang mencengangkan dari masyarakat sipil pada saat itu. Kini setelah menginjak tahun ke – 37 peringatan Hari Bumi (Earth Day), event ini telah memvirus hingga menjadi agenda global termasuk juga di Indonesia.

Tidak hanya berhenti pada sebatas euporia perayaannya (celebration) saja, akan tetapi lebih dari itu peringatan hari Bumi dari tahun ke tahun diharapkan bisa berkontribusi terhadap upaya – upaya penyelamatan lingkungan hidup yang nyata dan berkesinambungan.
Kerusakan lingkungan yang mengarah ke bencana ekologi yang telah terjadi belakangan ini, semakin membuat pemerhati lingkungan seluruh dunia berfikir dan berkumpul untuk membahas kerusakan bumi, dari mulai konvensi Stockholm, Rio de Jenairo, Washington, Protocol Kyoto, dll yang semuanya membahas persoalan yang tidak jauh berbeda dan terkesan itu – itu saja. Dalam lingkup global masalah penipisan ozon, perubahan iklim yang memicu pemanasan global (Global Warming), hujan asam, tingkat polusi dan limbah B3 dari Industri, kerusakan hutan, limbah tambang, air bersih, rusaknya terumbu karang, pencairan es di kutub bumi, hilangnya satwa langka menjadi fokus para aktifis lingkungan untuk melakukan perubahan. Kesemuanya persoalan di atas di karenakan tekanan industrialisasi, tekanan demografi negara berkembang, konsumsi yang berlebih di negara maju, timpangnya ekonomi dunia, perang dan kemiskinan, yang menyebabkan tekanan yang luar biasa bagi keterbatasan daya dukung alam. Isu – isu dan pengetahuan seputar lingkungan hidup yang masih eksklusif, tidak populer dan terpinggirkan (jika dibandingkan dengan isu politik, agama, dll) mungkin juga menjadi salah satu bagian dari pembentuk prilaku kita yang tidak pro dan berempati pada lingkungan hidup.
Di Indonesia sendiri, masalah lingkungan merupakan suatu masalah yang termasuk baru mulai dirasakan dampaknya, yang perlahan tapi pasti akan menyusul permasalahan – permasalahan turunannya yang merupakan hasil dari kesalahan pembangunan ekonomi selama ini. Lingkungan hanya menjadi etalase dalam konteks pembangunan bangsa ini, betapa tidak berjuta hektar hutan tiap tahunya harus di tebang hanya untuk segelintir orang, dengan mengorbankan ribuan bahkan jutaan orang yang harus mati karena perusahaan tambang, jutaan hektar tanah adat terampas dan sebagainya yang berdampak langsung maupun tidak langsung dari aktivitas tersebut. Padahal puluhan peraturan pemerintah dan Undang – undang lingkungan telah di sahkan
Permasalahan lingkungan di seluruh Dunia, pada prinsipnya memiliki akar permasalahan yang sama yaitu rendahnya kesadaran (awareness), pengetahuan dan cara pandang kita terhadap permasalahan – permasalahan lingkungan hidup itu sendiri. Jika kita berkesempatan melihat keadaan bentang alam Indonesia dari udara menggunakan pesawat terbang atau pada saat kita menjelajah di internet melalui Google Earth, pasti kita akan mendapati kondisi lingkungan yang miris dan mengkhawatirkan hati.
Terlepas dari label legal atau ilegalnya suatu aktivitas penambangan, perambahan hutan dll, faktanya kerusakan lingkungan semakin kronis dan terus terjadi, malahan ironisnya banyak aktivitas berorientasi ekonomi besar yang berlabel resmi (legal) seperti perusahaan tambang besar dan perusahaan perkebunan besar, yang sebenarnya merekalah yang mengambil porsi terbesar dalam aksi perusakan lingkungan (bisa juga, dibaca alam) baik secara kuantitas maupun kualitas di bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh rakyat, yang selama ini sering dibodohi dan dijadikan “tameng” oleh kepentingan – kepentingan yang tidak berorientasi pada kesejahteraan dan kemandirian rakyat itu sendiri. Padahal hak terhadap lingkungan yang sehat dan layak merupakan hak setiap orang dan itu berlaku lintas generasi. Dalam suatu aktivitas kehidupan peradaban manusia, penurunan kualitas lingkungan memang tidak bisa dihindari tetapi penting bagi kita untuk berupaya secara maksimal meminimalisir potensi – potensi penyebab kerusakannya.
Cara pandang kita yang menganggap permasalahan lingkungan sebagai permasalahan dengan skala prioritas bawah dari sekian banyak permasalahan yang ada, perlu didobrak bersama – sama sesegera mungkin, karena penanganan dari permasalahan lingkungan yang kompleks merupakan tanggung jawab bersama dan memerlukan kesungguhan serta peran serta aktif kita semua dalam suatu komitmen yang nyata..
Konflik atau gejolak yang muncul sebagai akses dari permasalah lingkungan sebenarnya bukanlah semata – mata karena isu lingkungan yang dibenturkan ke isu ekonomi kemudian di seret ke wilayah politik, tetapi lebih pada disebabkan pada ketidaktegasan dalam menegakkan hukum (law inforcement) dan standar ganda yang dilakukan pemerintah dalam menangani permasalah lingkungan di Indonesia. Langkah awal dan utama yang seharusnya dilakukan pemerintah secara sungguh – sungguh dan nyata dalam mengurangi kerusakan lingkungan yaitu melakukan penyadaran bersama atas pentingnya arti sebuah lingkungan hidup yang lestari dengan melakukan peningkatan kapasitas (capacity building) di tingkat masyarakat dimulai dari tingkatan terendah, sambil tetap berupaya mencari solusi terbaik dari permasalahan yang ada, dalam hal ini pemerintah seolah gagal hidup harmonis (berharmonisasi) dengan rakyatnya sendiri dengan sering tidak berorientasi pada kepentingan rakyat dan bersikap arogan dalam menyikapi permasalah.lingkungan yang berkenaan dengan rakyat kecil.
Dalam moment peringatan Hari Bumi 22 April 2007 besok, mari kita semua berlomba – lomba berkontribusi terhadap upaya - upaya penyelamatan lingkungan hidup sesuai dengan potensi dan kemampuan yang kita miliki, karena tidak ada kontribusi yang sepele terhadap upaya penyelamatan lingkungan hidup, paling tidak bisa kita mulai dari diri kita sendiri, karena bumi merupakan titipan dari anak cucu kita, bukanlah warisan orang tua kita yang semestinya tidak boleh kita perlakukan semaunya sehingga lingkungan hidup yang lestari bisa terwujud. Kalau diibaratkan, kondisi lingkungan di Indonesia sekarang ini sama persis dengan salah satu judul Film bertema lingkungan peraih piala Oscar yang berjudul “ An Inconvenient Truth” yang berarti “sebuah kenyataan atau kebenaran yang tidak meneyenangkan hati”. Selamatkan Bumi dengan tanganmu
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Kawasan Merapi
Gugatan Hukum Walhi dan Masyarakat Merapi Belum Berakhir
Saturday, 10 February 2007
Gugatan Hukum Walhi dan Masyarakat Merapi Atas Pembatalan Status TNGM Belum Berakhir Selasa... Baca lebih lanjut...
Penambangan Pasir di Merapi : Semakin Merusak, Semakin Merugikan
Tuesday, 30 November 1999
Rabu (15/11/2006) Setelah lokasi penambangan pasir beberapa perusahaan di Kecamatan... Baca lebih lanjut...
Somasi Walhi Jogjakarta Terhadap Menteri Kehutanan RI
Monday, 22 January 2007
Oleh : SuparlanSomasi Walhi Jogjakarta Terhadap Menteri Kehutanan RI Terkait Pendirian Bangunan... Baca lebih lanjut...
Kawasan Merapi
Monday, 01 January 2007
Gunung Merapi yang mempunyai ketinggian 2911 mdpl, dan merupakan salah satu gunung berapi didunia... Baca lebih lanjut...
Kawasan Menoreh
Kawasan Menoreh
Monday, 01 January 2007
Pegunungan Menoreh merupakan kawasan yang secara adminsitratif terletak di Kabupaten Magelang dan... Baca lebih lanjut...
Kawasan Perkotaan
Opini : PDAM, Air (Bukan) untuk Rakyat
Tuesday, 23 September 2008
Umbu Wulang TAP (Relawan WALHI)    Akhir-akhir ini saat perhatian publik tengah... Baca lebih lanjut...
Banyu Panguripan, di Titik Nadir?
Friday, 08 August 2008
Sekitar 85 % sumber air atau sumur di Yogyakarta telah tercemar bakteri E-coli dan sebagian... Baca lebih lanjut...
Kawasan Perkotaan
Monday, 01 January 2007
Kota sebagai pusat pemerintahan dan aktifitas masyarakat yang sangat kompleks merupakan daerah... Baca lebih lanjut...
Untuk Udara Bersih, Kami TIDAK BUTUH Dana Hutang
Wednesday, 13 December 2006
Rabu (13/12/2006) Better Air Quality (BAQ) workshop adalah rangkaian dari strategi dan rencana aksi... Baca lebih lanjut...
Advokasi Atas Sumber Daya Air Masyarakat di Jogjakarta
Friday, 05 May 2006
Jumat (05/05/2006) Air adalah sesuatu yang sulit untuk disubtitusi, meski oleh produk-produk modern... Baca lebih lanjut...
Kawasan Pesisir
Mosi Tidak Percaya
Thursday, 06 November 2008
Surat dengan no 34/SP-1/WY-DE/XI/2008 dengan hal : Mosi Tidak Percaya yang ditujukan kepada Menteri... Baca lebih lanjut...
Kawasan Pesisir
Monday, 01 January 2007
Kawasan pantai selatan merupakan daerah karst dan gumuk pasir yang tersebar di 3 kabupaten di... Baca lebih lanjut...
Menuntut Tangungjawab Lingkungan dan Sosial PLTU CILACAP
Tuesday, 30 November 1999
Sabtu (17/02/2007) Keberadaan PLTU Cilacap yang diresmikan pengoperasian pada Nopember 2006, telah... Baca lebih lanjut...
Krisis Air di Dusun Soka-Ngoro Oro
Thursday, 21 September 2006
Siang itu terik begitu menyengat, berbondong-bondong warga terlihat diantara bukit-bukit kapur... Baca lebih lanjut...
PENYELAMATAN KAWASAN PESISIR DAN LAUT DARI INTERVENSI ASING
Saturday, 16 May 2009
Tiga tahun terakhir, Indonesia telah mencatat rekor dengan menggelar pertemuan internasional yang... Baca lebih lanjut...

Sahabat Lingkungan Yogyakarta
Katalog Online Perpustakaan

Organ Support

Sahabat Lingkungan Yogyakarta
Sahabat Lingkungan Yogyakarta
Kedai Hijo Yogyakarta

Total Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini81
mod_vvisit_counterKemarin133
mod_vvisit_counterMinggu ini214
mod_vvisit_counterBulan ini862
mod_vvisit_counterSemua114925