Wahana Lingkungan Hidup Indonesia - Yogyakarta

  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Beranda
PENYELAMATAN KAWASAN PESISIR DAN LAUT DARI INTERVENSI ASING
Saturday, 16 May 2009
Tiga tahun terakhir, Indonesia telah mencatat rekor dengan menggelar pertemuan internasional yang menggrogoti hajat hidup rakyatnya (UNFCC-2007, ADB-2009, WOC-2009). Serangkaian pertemuan tersebut menunjukkan semakin terbukanya akses intervensi pihak asing terhadap keberlanjutan kekayaan sumber daya alam negeri ini. Hal ini tidak terlepas dari arogansi negara yang ingin menguasai seluruh sumber-sumber penghidupan dan mempersempit akses bagi rakyat untuk mengelolanya.
Dengan berlindung dibalik konservasi dan mengabaikan hak-hak rakyat, negara telah secara sistematis merampas hak-hak rakyat untuk mengakses sumber penghidupan. Bahkan bentuk ketidakmampuan negera mengelola sumber daya alam dengan membuka ruang intervensi juga investasi secara besar-besaran. Hal ini sengat dekat kita rasakan pada kasus tambang pasir besi di Kulonprogo. Pemerintah telah menandatangani kontrak karya dengan investor asal Australia. Tidak hanya itu, United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di gelar Desember 2008 lalu. Acara itu sedianya akan menjadi ajang untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global. Namun justru hanya menjadi arena perdagangan karbon. Hingga pendanaan adaptasi diserahkan kepada Bank Dunia dan kesekretariatannya sendiri berada dibawah GEF (Global Environmental Fasilities).
Gerak imperialis ternyata makin luas menguasai negeri ini, Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference-WOC) dan Coral Triangle Initiative (CTI) 11-15 Mei 2009 yang dihadiri 75 delegasi Negara ini merupakan suatu pertemuan politik komunitas kelautan dunia dalam kaitannya dengan perubahan iklim. Namun justru konferensi internasional ini yang memberikan "legitimasi" pada upaya-upaya intervensi masyarakat industri asing mengkooptasi pengelolaan sumberdaya kelautan di Indonesia. Selain itu, konferensi tersebut mencerminkan proses pemiskinan dengan pembatasan akses nelayan-nelayan tradisional untuk ikut mengelola dan memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut. Peran-peran negara yang seharusnya memproteksi sumber kehidupan nelayan tradisional, justru lebih mendukung kepentingan agenda kapitalisme/neoliberalisme yang tersembuyi di balik forum internasional dengan mengatasnamakan kepentingan keberlangsungan kehidupan dunia.
Tidak hanya itu, kegiatan illegal fishing hingga pencemaran laut dari limbah perusahaan pertambangan yang selama ini sangat merugikan negara sama sekali tidak dibahas dalam forum, bahkan pagi ini forum tersebut telah mensepakati Manado Ocean Declration (MOD). Bukti terakhir pengekangan masyarakat sipil terhadap akses sumberdaya kelautan adalah perluasan konservasi Laut Sawu di Nusa Tenggara Timur (NTT), dari 40 ribu hektare (ha) menjadi 400 ribu ha, dan rencananya menjadi empat juta ha, yang diresmikan kemarin pada forum WOC. Ini adalah hasil kerja sama The Nature Conservacy (TNC) serta Departemen Kelautan dan Perikanan RI.
Bagi gerakan masyarakat sipil, khususnya gerakan lingkungan dan nelayan di Indonesia, WOC tidak lebih hanya menjadi alat untuk melegitimasi liberalisasi sumber daya laut dan semakin memiskinkan nelayan oleh berbagai kebijakan pembangunan. WOC merupakan ancaman yang serius bagi kedaulatan negara-negara maritim seperti Indonesia. Proyek CTI sesungguhnya menjadi legitimasi oleh penguasa negara untuk "menjual" kekayaan laut yang selama ini di seantero Indonesia, nelayan tradisionallah yang menjadi korban dari persoalan-persoalan tersebut sehingga banyak nelayan tradisional yang hingga kini masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Untuk itu kami WALHI Yogyakarta – LBH Yogyakarta – SP Kinasih - FORUM LSM – JARIK – PPMI – JPY
  • MENOLAK SEGALA BENTUK INTERVENSI ASING MELALUI KONSERVASI INTERNASIONAL, tetapi menempatkan konservasi untuk kepentingan rakyat dengan menggiatkan konservasi berbasis pemberdayaan masyarakat lokal,
  • MEMBUKA SELUAS-LUASNYA AKSES BAGI MASYARAKAT SIPIL TERHADAP SUMBER DAYA ALAM
  • MENGUTUK SEGALA BENTUK TINDAKAN REPRESIF NEGARA TERMASUK APARATUR NYA YANG MEMBUNGKAM MASYARAKAT DALAM MENYAMPAIKAN PENDAPAT
  • MENOLAK HASIL PERTEMUAN WOC YANG TERANGKUM DALAM MANADO OCEAN DECLRATION (MOD), MOD tidak lebih hanya menjadi alat untuk melegitimasi liberalisasi sumber daya laut dan semakin memiskinkan nelayan oleh berbagai kebijakan pembangunan.
  • MENOLAK PERTAMBANGAN PASIR BESI DI KULONPROGO, karena akan merusak ekosistem dan keseimbangan ekologi di kawasan pesisir selatan serta akan menghilangkan bentuk dan fungsi gumuk pasir di kawasan pesisir yang berfungsi sebagai penyangga alam dari ancaman tsunami juga sebagai penyaring air laut ke sumur air tawar,
  • MENOLAK PROYEK JALUR LINTAS SELATAN, yang berdampak langsung secara ekologis karena melewati hutan lindung, tercerabutnya masyarakat secara sosial dan ekonomi serta akan manambah daftar hutang negara ini.
  • MENOLAK MEGAPROYEK PARANGTRITIS, sebab akan merusak ekosistem sejumlah 190 bentukan gumuk pasir di Parangtritis

 
Berikutnya >
Kawasan Merapi
Gugatan Hukum Walhi dan Masyarakat Merapi Belum Berakhir
Saturday, 10 February 2007
Gugatan Hukum Walhi dan Masyarakat Merapi Atas Pembatalan Status TNGM Belum Berakhir Selasa... Baca lebih lanjut...
Penambangan Pasir di Merapi : Semakin Merusak, Semakin Merugikan
Tuesday, 30 November 1999
Rabu (15/11/2006) Setelah lokasi penambangan pasir beberapa perusahaan di Kecamatan... Baca lebih lanjut...
Kawasan Merapi
Monday, 01 January 2007
Gunung Merapi yang mempunyai ketinggian 2911 mdpl, dan merupakan salah satu gunung berapi didunia... Baca lebih lanjut...
Somasi Walhi Jogjakarta Terhadap Menteri Kehutanan RI
Monday, 22 January 2007
Oleh : SuparlanSomasi Walhi Jogjakarta Terhadap Menteri Kehutanan RI Terkait Pendirian Bangunan... Baca lebih lanjut...
Kawasan Menoreh
Kawasan Menoreh
Monday, 01 January 2007
Pegunungan Menoreh merupakan kawasan yang secara adminsitratif terletak di Kabupaten Magelang dan... Baca lebih lanjut...
Kawasan Perkotaan
Opini : PDAM, Air (Bukan) untuk Rakyat
Tuesday, 23 September 2008
Umbu Wulang TAP (Relawan WALHI)    Akhir-akhir ini saat perhatian publik tengah... Baca lebih lanjut...
Banyu Panguripan, di Titik Nadir?
Friday, 08 August 2008
Sekitar 85 % sumber air atau sumur di Yogyakarta telah tercemar bakteri E-coli dan sebagian... Baca lebih lanjut...
Kawasan Perkotaan
Monday, 01 January 2007
Kota sebagai pusat pemerintahan dan aktifitas masyarakat yang sangat kompleks merupakan daerah... Baca lebih lanjut...
Untuk Udara Bersih, Kami TIDAK BUTUH Dana Hutang
Wednesday, 13 December 2006
Rabu (13/12/2006) Better Air Quality (BAQ) workshop adalah rangkaian dari strategi dan rencana aksi... Baca lebih lanjut...
Advokasi Atas Sumber Daya Air Masyarakat di Jogjakarta
Friday, 05 May 2006
Jumat (05/05/2006) Air adalah sesuatu yang sulit untuk disubtitusi, meski oleh produk-produk modern... Baca lebih lanjut...
Kawasan Pesisir
PENYELAMATAN KAWASAN PESISIR DAN LAUT DARI INTERVENSI ASING
Saturday, 16 May 2009
Tiga tahun terakhir, Indonesia telah mencatat rekor dengan menggelar pertemuan internasional yang... Baca lebih lanjut...
Press Release : Kontroversi Pasir Besi di Kulonprogo
Thursday, 23 October 2008
Nomor    : 33/SP/WY-DE/X/2008Hal         : Press release... Baca lebih lanjut...
Mosi Tidak Percaya
Thursday, 06 November 2008
Surat dengan no 34/SP-1/WY-DE/XI/2008 dengan hal : Mosi Tidak Percaya yang ditujukan kepada Menteri... Baca lebih lanjut...
Press Release : Menolak Konsultasi Publik Rencana Pertambangan dan Pemrosesan Pasir Besi
Monday, 19 October 2009
Adanya Konsultasi Publik Rencana Kegiatan Pertambangan Dan Pemrosesan Pasir Besi yang diadakan pada... Baca lebih lanjut...
Krisis Air di Dusun Soka-Ngoro Oro
Thursday, 21 September 2006
Siang itu terik begitu menyengat, berbondong-bondong warga terlihat diantara bukit-bukit kapur... Baca lebih lanjut...

Sahabat Lingkungan Yogyakarta
Katalog Online Perpustakaan

Organ Support

Sahabat Lingkungan Yogyakarta
Sahabat Lingkungan Yogyakarta
Kedai Hijo Yogyakarta

Pengunjung Online

Saat ini adai 16 tamu-tamu online

Total Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini74
mod_vvisit_counterKemarin133
mod_vvisit_counterMinggu ini207
mod_vvisit_counterBulan ini855
mod_vvisit_counterSemua114918