Strategi Militer Iran Pasca Perang 2025: Pendekatan Agresif Terhadap Israel dan AS

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah terjadinya konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Situasi semakin memburuk setelah pengumuman mengenai kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, akibat serangan yang memicu reaksi keras dari pemerintah Teheran.
Sejak terjadinya peperangan besar pada bulan Juni 2025, banyak analis pertahanan melihat adanya pergeseran signifikan dalam strategi militer Iran. Sebelumnya, pendekatan yang diambil cenderung defensif, bergantung pada dukungan kelompok sekutu di wilayah tersebut. Namun, kini Iran beralih ke strategi yang lebih agresif, dengan fokus langsung pada penargetan musuh-musuhnya.
Kekuatan militer Iran memiliki struktur yang kompleks dan khas. Berdasarkan laporan dari sumber-sumber terpercaya, negara ini memiliki dua entitas militer utama yang beroperasi secara bersamaan.
Entitas pertama adalah Artesh, yang merupakan militer reguler Iran. Tugas utama mereka meliputi menjaga kedaulatan wilayah negara, mengamankan ruang udara, serta melaksanakan operasi-operasi perang konvensional.
Entitas kedua adalah Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Selain menjaga keamanan negara, IRGC juga bertanggung jawab untuk melindungi sistem politik Iran dan menjamin stabilitas pemerintahan.
IRGC memegang kendali atas sebagian besar program drone dan rudal yang dimiliki Iran. Senjata-senjata ini kini menjadi elemen kunci dalam strategi pertahanan Iran untuk menghadapi tekanan yang ditimbulkan oleh Israel dan Amerika Serikat.
Berdasarkan pandangan beberapa analis militer, struktur berlapis dalam kekuatan militer Iran ini sengaja dibangun untuk melindungi negara dari ancaman eksternal serta potensi kudeta yang berasal dari dalam negeri.
Setelah serangan gabungan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat, Iran segera merespons dengan serangan balasan terhadap berbagai target militer di kawasan Teluk.
Serangan tersebut dilakukan menggunakan drone tempur Shahed dan rudal balistik berkecepatan tinggi. Meskipun sebagian besar serangan dapat dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel dan sekutunya, beberapa di antaranya masih berhasil menimbulkan kerusakan yang signifikan.
Kementerian Pertahanan Iran melaporkan bahwa dalam satu gelombang serangan, sekitar 137 rudal dan 209 drone berhasil diluncurkan ke wilayah Uni Emirat Arab, yang diketahui memiliki sejumlah pangkalan militer Amerika.
Ledakan bahkan terlihat dari beberapa landmark ikonik di Dubai, seperti Palm Jumeirah dan Burj Al Arab.
Serangan juga menargetkan bandara Abu Dhabi, yang mengakibatkan korban jiwa serta cedera pada beberapa orang. Di sisi lain, serangan rudal Iran yang dilancarkan ke kota Beit Shemesh di Israel dilaporkan mengakibatkan sedikitnya sembilan orang tewas.
➡️ Baca Juga: Kegiatan Volunteering: Manfaat dan Pengalaman Berharga
➡️ Baca Juga: Lagu Tradisional Daerah Diangkat Jadi Tema Film Nasional




