Bitcoin Melorot Dekati US$65.000 Setelah Ancaman Serangan Besar oleh Trump ke Iran

Harga Bitcoin kembali menjadi perhatian pasar setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengindikasikan kemungkinan meningkatnya serangan terhadap Iran. Situasi ini berimbas pada nilai aset kripto yang mengalami penurunan, mendekati level kritis US$65.000.
Saat ini, Bitcoin tercatat mengalami penurunan lebih dari 3,7 persen dengan harga yang bergerak di kisaran US$66.590, setara dengan sekitar Rp 1,13 miliar, pada pukul 12.04 GMT+7 pada Kamis, 2 April 2026.
Para pelaku pasar kini lebih terfokus pada level psikologis US$65.000, yang dianggap sebagai titik penting bagi Bitcoin untuk mempertahankan tren kenaikan. Secara teknikal, jika harga turun di bawah US$65.000, hal ini berpotensi membawa nilai Bitcoin menuju level US$60.000 dalam waktu dekat.
Dalam pidatonya di Gedung Putih pada Rabu, 1 April 2026, Trump mengungkapkan bahwa operasi militer AS terhadap Iran akan terus berlanjut. Ia menegaskan bahwa serangan yang akan dilakukan akan semakin intens dalam beberapa pekan mendatang.
“Militer AS sangat dekat untuk menyelesaikan ‘Operation Epic Fury’. Namun kami akan menghantam mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan untuk memastikan hasil yang tegas,” ujar Trump, yang dikutip dari TrandingView pada Kamis, 2 April 2026.
Pernyataan Trump langsung memicu lonjakan harga minyak dunia yang melampaui US$100 per barel, atau setara dengan Rp 1,7 juta. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran investor mengenai potensi gangguan pasokan energi, terutama di Selat Hormuz.
Kenaikan harga energi ini juga meningkatkan kekhawatiran akan inflasi, yang pada gilirannya mengurangi minat investor terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.
Pasar keuangan global, termasuk saham, minyak, dan kripto, telah mengalami volatilitas yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini dipicu oleh ketidakpastian terkait arah konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Sebelumnya, pasar menunjukkan respons positif setelah Trump memberikan sinyal bahwa perang akan segera berakhir. Namun, perubahan nada dalam retorika terbaru kembali menimbulkan kekhawatiran akan konflik yang berkepanjangan.
Harapan akan perdamaian mungkin dapat mendorong pemulihan harga Bitcoin. Meskipun Trump mengancam akan meningkatkan serangan, ia juga membuka kemungkinan terjadinya gencatan senjata. Dia menyebutkan bahwa komunikasi diplomatik antara kedua pihak masih berlangsung. Trump pun optimis bahwa akhir dari konflik ini akan berdampak positif bagi pasar energi dan finansial global.
“Ketika konflik ini berakhir, selat itu akan terbuka dengan sendirinya. Mereka ingin menjual minyak untuk membangun kembali ekonomi. Harga gas akan turun dengan cepat, dan pasar saham akan kembali naik,” tambah Trump.
➡️ Baca Juga: SMI Jalin Kerja Sama dengan Danantara untuk Proyek Energi dari Limbah
➡️ Baca Juga: Medela Potentia Raih Laba Rp 398 Miliar di 2025, Perluas 8 Lini Bisnis Secara Agresif




