AS dan Israel Terlibat Perselisihan Mengenai Rencana Damai dengan Iran yang Mengguncang Aliansi

Perbedaan pandangan kini mulai terungkap antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terkait rencana yang diajukan untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Ketegangan ini menunjukkan bahwa meskipun kedua negara telah lama menjadi sekutu, terdapat aspek-aspek yang memicu ketidakpahaman di antara mereka.

Menurut laporan dari lembaga penyiaran publik Israel, KAN, perselisihan ini berfokus pada tiga isu utama. Isu-isu tersebut meliputi masa depan program rudal balistik Iran, transfer uranium yang telah diperkaya ke Badan Energi Atom Internasional, serta kebijakan pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran yang selama ini diterapkan.

Sebelumnya, dilaporkan bahwa AS telah menyampaikan 15 poin usulan kepada Iran melalui perantara Pakistan, yang bertujuan untuk menghentikan perang. Terdapat juga pertimbangan untuk melaksanakan gencatan senjata sementara selama satu bulan, sebagai langkah awal untuk membuka jalur perundingan yang lebih formal.

Kantor berita semi-resmi Tasnim mengutip seorang pejabat Iran yang tidak ingin disebutkan namanya, yang mengungkapkan bahwa Iran telah memberikan tanggapan resmi terhadap usulan dari AS melalui mediator. Tanggapan tersebut meliputi permintaan untuk menghentikan semua serangan dan pembunuhan, jaminan tidak akan ada lagi perang, serta kompensasi, dan pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

Sementara itu, KAN melaporkan bahwa pembicaraan antara AS dan Israel masih berlangsung, dan ada kemungkinan bahwa usulan AS tersebut dapat mengalami perubahan. Dalam konteks ini, seorang sumber dari Israel menyatakan bahwa Iran telah menggunakan retorika yang sangat agresif dan mengajukan tuntutan yang signifikan dalam dialog yang sedang berlangsung.

Sumber tersebut juga mengungkapkan kekhawatiran di Israel bahwa Presiden AS yang saat itu menjabat, Donald Trump, mungkin akan mendorong gencatan senjata sementara sebagai langkah untuk merundingkan kesepakatan dengan Iran. Hal ini menambah ketegangan di dalam aliansi yang sebelumnya tampak solid.

Meskipun terdapat laporan mengenai upaya mediasi oleh Pakistan, waktu untuk pertemuan antara pejabat AS dan Iran belum ditentukan. Ketidakpastian ini menambah kompleksitas situasi yang sedang berlangsung.

Sejak 28 Februari 2026, AS dan Israel telah melancarkan serangan udara yang intensif terhadap Iran, yang telah mengakibatkan lebih dari 1.340 korban jiwa, termasuk di antaranya Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei. Situasi ini menunjukkan betapa seriusnya dampak dari konflik yang berkepanjangan ini.

Sebagai balasan, Iran telah melancarkan serangan drone dan rudal ke arah Israel serta terhadap lokasi-lokasi di mana aset militer AS berada, termasuk di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk. Tindakan ini mencerminkan dinamika yang semakin rumit dalam hubungan antara kedua negara, serta menunjukkan bahwa eskalasi militer terus berlanjut tanpa adanya tanda-tanda resolusi yang jelas.

➡️ Baca Juga: Bisnis Rumahan yang Bisa Dijalankan Tanpa Mengganggu Pekerjaan Penuh Waktu

➡️ Baca Juga: Mengenal Berbagai Jenis Kopi dan Cara Penyajiannya

Exit mobile version