Biaya Fiber Optik Meningkat Tajam Akibat Konflik di Timur Tengah

Ketua Umum Asosiasi Jaringan Penyelenggara Telekomunikasi (APJATEL), Jerry Mangasas Swandy, menyatakan bahwa meskipun biaya fiber optik berpotensi meningkat akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah, industri tetap berkomitmen untuk melanjutkan penggelaran jaringan fiber optik.

“Kami sebagai industri bertekad untuk terus membangun. Berdasarkan Peraturan Menteri Kominfo nomor 5 tahun 2021, terdapat komitmen dari penyelenggara jaringan untuk menggelar infrastruktur tersebut,” ujarnya di Jakarta pada Kamis, 10 April 2026.

Namun, ia mengakui bahwa kondisi saat ini tidak lagi normal dalam penggelaran jaringan. Beberapa faktor eksternal telah mempengaruhi proses tersebut. Jerry menggarisbawahi bahwa bahan baku penting untuk fiber optik, seperti corning dan High Density Polyethylene (HDPE), mengalami kenaikan harga akibat dampak konflik yang ada.

Ia menjelaskan bahwa lonjakan harga corning terjadi karena material ini tidak hanya penting untuk jaringan telekomunikasi, tetapi juga digunakan dalam pembuatan senjata. Begitu pula dengan HDPE, yang berfungsi sebagai pelindung kabel fiber optik, juga mengalami peningkatan harga.

“HDPE berfungsi sebagai penutup fiber optik dan dapat ditemukan dalam berbagai warna, seperti hijau, merah, dan oranye. Kenaikan harga HDPE ini jelas akan berdampak pada biaya penggelaran fiber optik,” jelas Jerry.

APJATEL memperkirakan bahwa biaya penggelaran fiber optik dapat meningkat sebesar 15-17 persen dari kondisi normal akibat kenaikan harga bahan baku. Meskipun demikian, Jerry menegaskan bahwa anggota APJATEL tetap berkomitmen untuk melanjutkan proyek penggelaran fiber optik, meskipun hasil yang dicapai mungkin lebih rendah dari target awal.

“Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan menargetkan penggelaran 50 kilometer dalam satu tahun, hal ini bisa berkurang menjadi hanya 10 kilometer. Jika situasi semakin memburuk, kami berencana untuk meminta insentif dari pemerintah agar program fiberisasi tetap dapat berjalan,” tambahnya.

Jerry juga mengingatkan bahwa kondisi serupa pernah dialami pada masa pandemi Covid-19, di mana APJATEL meminta insentif kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (sekarang Kemkomdigi), meskipun kewajiban tetap harus dipenuhi.

Selain itu, APJATEL juga merencanakan pembentukan Operating Vehicle Company (OVC) sebagai solusi untuk mengatasi tingginya biaya penggelaran jaringan fiber optik di Indonesia, yang saat ini dianggap terlalu mahal.

➡️ Baca Juga: Jusuf Kalla Resmi Laporkan Rismon dan Akun YouTube Penyebar Hoaks ke Bareskrim

➡️ Baca Juga: Pelni Sediakan 751 Ribu Tiket dan 55 Kapal untuk Arus Mudik Lebaran 2026

Exit mobile version