FSI Menyoroti Tantangan Utama ASEAN dalam Penyusunan COC Laut China Selatan

Proses penyusunan Code of Conduct (COC) di Laut China Selatan kini berada pada tahap yang sangat penting, dengan target untuk menyelesaikannya pada tahun 2026. Di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah, peran ASEAN sebagai kekuatan utama di kawasan ini sedang diuji untuk tetap solid dan relevan.

Ketegangan di wilayah tersebut semakin meningkat, didorong oleh sikap assertif China yang terus melakukan klaim sepihak melalui sembilan garis putus-putus. Kondisi ini menjadikan negosiasi COC tidak hanya sebagai forum diplomasi, tetapi juga arena pertaruhan pengaruh di Asia Tenggara.

Ahmad Shaleh Bawazir, Direktur Kerja Sama Politik Keamanan ASEAN di Kementerian Luar Negeri RI, menegaskan bahwa dasar untuk pembentukan COC telah ada sejak lama. “Salah satu mandat dari DOC adalah menyusun COC untuk mencegah terjadinya insiden antara pihak-pihak yang terlibat dalam sengketa,” paparnya baru-baru ini.

Ia menambahkan bahwa kemajuan yang signifikan mulai terlihat sejak tahun 2017, saat kerangka kerja untuk COC mulai dibentuk secara lebih terstruktur. Kesepakatan yang dicapai pada tahun 2023 untuk menuntaskan COC pada tahun 2026 diharapkan menjadi momentum penting bagi ASEAN untuk menunjukkan kepemimpinannya.

Sebagai negara non-klaiman, Indonesia tetap berkomitmen untuk menjaga posisi netral dalam proses ini. Namun, di sisi lain, Indonesia aktif mendorong agar COC tidak hanya selesai tepat waktu, tetapi juga memiliki substansi yang kuat dan relevan.

Ahmad menekankan bahwa kualitas kesepakatan harus lebih diutamakan dibandingkan sekadar pencapaian tenggat waktu. “Bagi Indonesia, keberadaan COC yang substantif dan dapat diimplementasikan sama pentingnya dengan kepatuhan terhadap batas waktu,” ujarnya.

Tantangan besar juga muncul dari rendahnya tingkat kepercayaan antara negara-negara ASEAN dan China. Keadaan ini dianggap sebagai faktor krusial yang dapat menentukan keberhasilan atau kegagalan proses negosiasi.

Laksamana Pertama TNI Salim, Kepala Pusat Pengkajian Maritim Seskoal, mengingatkan akan konsekuensi serius jika kesepakatan tidak tercapai. “Jika COC gagal dicapai, akan ada potensi eskalasi konflik terbuka antara negara-negara yang terlibat dalam sengketa,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti bahwa keberhasilan COC akan membawa tantangan baru dalam pelaksanaannya di lapangan. “Mekanisme yang diperlukan jika COC berhasil dicapai adalah mekanisme pemantauan bersama, kerja sama patroli maritim, dan mekanisme penyelesaian sengketa,” tuturnya.

➡️ Baca Juga: Strategi Bisnis Jangka Panjang yang Efektif untuk Mencapai Keuntungan Berkelanjutan

➡️ Baca Juga: Bukayo Saka Nyatakan Arsenal Fokus pada Kemenangan, Bukan Kritikan Usai Mengalahkan Brighton

Exit mobile version