Eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, semakin meningkat setiap harinya. Ketegangan yang terus meruncing ini mengakibatkan gangguan serius pada rantai pasokan energi global, sehingga mendorong harga minyak dunia melambung melebihi US$80 per barel.
Menurut laporan dari CNBC Internasional, harga minyak mentah West Texas Intermediate mengalami lonjakan sebesar 8,51 persen atau sekitar US$6,35, mencapai angka US$81,01 (dengan estimasi kurs Rp 16.920 per dolar AS), yang setara dengan sekitar Rp 1,37 juta per barel. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi dalam satu hari sejak bulan Mei 2020.
Sementara itu, harga minyak Brent juga mencatatkan peningkatan sebesar 4,93 persen atau US$4,01, ditutup pada level US$85,41, atau sekitar Rp 1,44 juta per barel. Sejak awal bulan Maret 2026, harga minyak di AS telah melonjak sekitar 21 persen, menunjukkan dampak signifikan dari ketegangan yang terjadi.
Dampak dari lonjakan harga minyak ini juga dirasakan di sektor bahan bakar, di mana harga bensin eceran di AS meningkat hampir 27 sen dalam satu minggu terakhir, mencapai rata-rata US$3,25 per galon. Kenaikan ini mengingatkan pada lonjakan harga bensin yang terjadi pada Maret 2022, setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa pemerintah akan mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk meredakan tekanan di sektor energi. Ia menyebutkan bahwa AS bersedia memberikan asuransi risiko politik serta pengawalan angkatan laut bagi kapal tanker yang beroperasi di kawasan tersebut.
Sementara itu, Iran mengklaim telah meluncurkan serangan rudal terhadap sebuah kapal tanker minyak. Garda Revolusi Iran juga mengumumkan penutupan Selat Hormuz awal pekan ini dan mengancam untuk menyerang kapal tanker yang melintas di area tersebut.
Klaim yang disampaikan oleh Iran sejalan dengan laporan dari Angkatan Laut Inggris mengenai adanya ledakan besar di salah satu kapal tanker yang berlabuh di perairan teritorial Irak. Kapten kapal tersebut melaporkan bahwa ia melihat sebuah kapal kecil melarikan diri dari lokasi kejadian, meskipun semua awak kapal berhasil selamat dan tidak ada kebakaran yang dilaporkan.
Sejak konflik antara AS dan Israel melawan Iran berlangsung, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz terhenti total. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemilik kapal terkait situasi keamanan yang semakin tidak stabil.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang mengangkut sekitar 20 persen konsumsi minyak global. Dengan banyaknya kapal tanker dari berbagai negara terjebak di perairan utara Iran, cadangan energi beberapa negara mulai menipis, yang dapat berimplikasi serius pada pasar energi global.
➡️ Baca Juga: Badan Pengawas Nuklir PBB Konfirmasi Tidak Ada Kenaikan Radiasi di Negara Sekitar Iran
➡️ Baca Juga: AS Putus Hubungan Dagang dengan Spanyol, Larang Penggunaan Pangkalan Militer untuk Serang Iran
