India dan Sri Lanka Izinkan Kapal Perang Iran Berlabuh di Tengah Ancaman Torpedo AS

India telah memberikan izin kepada kapal perang Iran untuk berlabuh pada tanggal yang bersamaan dengan tenggelamnya kapal lainnya oleh AS di dekat Sri Lanka, menurut penjelasan dari para pejabat setempat. Permohonan untuk berlabuh yang diajukan oleh kapal perang Iran bernama Lavan diterima pada 28 Februari, yang juga merupakan hari dimulainya konflik militer Iran.

Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, mengungkapkan bahwa keputusan untuk mengizinkan kapal perang Iran berlabuh merupakan langkah yang diambil sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan. Hal ini disampaikan setelah insiden serangan AS yang menenggelamkan kapal angkatan laut Iran, IRIS Dena, di perairan lepas pantai Sri Lanka pada 7 Maret 2026.

Insiden yang terjadi tersebut merupakan peristiwa yang sangat jarang terlihat sejak akhir Perang Dunia II, di mana sebuah kapal selam berhasil menenggelamkan kapal perang permukaan. Hal ini mencerminkan peningkatan agresi militer dari AS dan sekutunya, Israel, terhadap Iran. Setidaknya 87 nyawa dilaporkan hilang akibat serangan tersebut, yang berlangsung di zona ekonomi eksklusif Sri Lanka, berjarak 19 mil laut dari pantai, di luar batas maritim negara tersebut.

Kapal IRIS Dena sebelumnya terlibat dalam latihan militer yang diadakan oleh India, sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke perairan internasional. Menurut Kementerian Pertahanan India, setidaknya 74 negara berpartisipasi dalam latihan tersebut, termasuk Angkatan Laut AS yang melakukan operasi pengintaian dan patroli maritim.

Kapal Lavan berlabuh di pelabuhan Kochi, India selatan, pada hari Rabu, bersamaan dengan serangan yang dilancarkan oleh kapal selam AS terhadap fregat angkatan laut Iran Dena. Sumber-sumber pemerintah India menyebutkan bahwa permintaan mendesak dari Teheran menjadi alasan utama di balik keputusan berlabuh ini.

Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa menghancurkan angkatan laut Iran merupakan salah satu tujuan utama dalam perang yang diluncurkan oleh dirinya bersama Israel terhadap Republik Islam Iran, yang dimulai seminggu sebelumnya.

Lavan, yang merupakan kapal pendaratan amfibi, menurut informasi dari Institut Angkatan Laut AS, dan dua kapal lainnya “sebenarnya dalam perjalanan untuk melakukan tinjauan armada, namun terjebak dalam situasi yang tidak terduga,” kata Jaishankar saat berpartisipasi dalam acara Dialog Raisina tahunan.

“Saya percaya bahwa kami mendekati situasi ini dengan perspektif kemanusiaan, meskipun mungkin ada masalah hukum yang perlu dipertimbangkan,” ujarnya. “Saya yakin, langkah yang kami ambil adalah langkah yang benar dan sesuai.”

➡️ Baca Juga: Cara Mengatasi Kecemasan dan Meningkatkan Kesejahteraan

➡️ Baca Juga: Apa Itu Bisnis dan Bagaimana Cara Kerjanya

Exit mobile version