Jejak Kemerosotan Timnas Italia Sejak Meraih Gelar Keempat dalam Sejarah Sepak Bola

Sepak bola Italia saat ini tengah berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Dua puluh tahun setelah Fabio Cannavaro mengangkat trofi Piala Dunia 2006 di Berlin, kenangan manis tersebut kini terasa semakin jauh. Alih-alih mempertahankan kejayaan, prestasi Timnas Italia di pentas internasional justru mengalami penurunan drastis, mencapai titik terendah yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
Kemerosotan ini bukanlah sebuah fenomena yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil dari serangkaian kegagalan yang terus berulang selama dua dekade terakhir.
Awal Kejatuhan Sejak 2010 dan 2014
Tanda-tanda kemunduran tim sudah mulai terlihat tak lama setelah mereka meraih gelar juara dunia. Pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Italia yang datang sebagai juara bertahan justru gagal lolos dari fase grup, sebuah kegagalan yang sangat memalukan. Hal ini terulang kembali pada Piala Dunia 2014 di Brasil, di mana mereka kembali terhenti di babak penyisihan grup.
Meskipun sempat memberikan harapan melalui prestasi di ajang Euro, kenyataan pahit di kualifikasi Piala Dunia menunjukkan bahwa luka yang dialami jauh lebih dalam.
Luka yang Kian Menganga: Absen Tiga Kali Beruntun
Puncak dari tragedi sepak bola Italia terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. Secara mengejutkan, tim yang memiliki empat gelar juara dunia ini gagal untuk menembus putaran final Piala Dunia sebanyak tiga kali secara berturut-turut.
Setelah tidak tampil di edisi 2018 di Rusia dan 2022 di Qatar, kegagalan terbaru untuk edisi 2026 menjadi pukulan paling telak. Kepastian absennya Italia di Piala Dunia 2026 setelah disingkirkan oleh Bosnia-Herzegovina seolah menjadi pengingat bahwa status “raksasa” yang mereka miliki kini hanya tinggal kenangan.
Kesetiaan yang Diuji
Kondisi ini memicu reaksi emosional yang mendalam dari para pendukung sepak bola di seluruh dunia. Ungkapan “Piala Dunia tanpa Italia terasa hampa” kini bukan sekadar ungkapan, melainkan sebuah kenyataan pahit yang harus diterima dalam waktu belasan tahun terakhir.
Bagi para penggemar setia Gli Azzurri, mereka telah menunggu bertahun-tahun untuk melihat tim kesayangan mereka kembali berprestasi di pentas megah tersebut. “Jangan ajarkan kami tentang kesetiaan,” mungkin adalah ungkapan yang paling tepat menggambarkan perasaan mereka saat ini.
Harapan untuk Perubahan
Kini, dengan mundurnya Gabriele Gravina dari jabatannya sebagai Presiden FIGC dan rencana pemilihan pemimpin baru pada bulan Juni mendatang, publik Italia hanya bisa berharap akan adanya revolusi besar dalam tim. Tanpa adanya perubahan yang mendasar, bintang keempat di jersey biru mereka akan terus memudar, tertutupi oleh debu dari kegagalan yang terus menerus menumpuk.
➡️ Baca Juga: Ducati Hadir di Dunia Motocross dengan Motor Trail Berteknologi Balap Terdepan
➡️ Baca Juga: Cara Membangun Jaringan Profesional yang Kuat: Tips untuk Sukses




