Pendapatan Industri Gaming di Asia Tenggara Diprediksi Mencapai US$7,1 Miliar pada 2028

Perusahaan pemasaran yang fokus pada gaming dan hiburan terintegrasi, Ampverse, baru-baru ini merilis laporan mendalam mengenai potensi dan kemajuan industri permainan di Asia Tenggara. Laporan berjudul ‘Ampverse Playbook: Unlocking the Value of Gaming in Southeast Asia’ ini menyediakan analisis terkini mengenai skala, pertumbuhan, dan signifikansi strategis pasar gaming di kawasan ini, serta dampaknya bagi merek, penerbit, dan perusahaan media.

Diterbitkan di tengah meningkatnya pengaruh gaming dalam ekonomi digital di kawasan tersebut, laporan ini menggarisbawahi pentingnya Asia Tenggara sebagai pasar yang semakin vital. Diperkirakan akan ada sekitar 290 juta gamer pada tahun 2025, dengan nilai pasar yang mencapai sekitar US$6,6 miliar. Selain itu, ekosistem gaming secara keseluruhan diproyeksikan akan menembus angka US$14 miliar pada tahun 2030, menjadikannya salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat.

Dalam konteks ini, Indonesia muncul sebagai salah satu pasar gaming terbesar berbasis komunitas di Asia Tenggara. Charlie Baillie, CEO dan Co-Founder Ampverse, menyatakan bahwa pandangan sempit terhadap gaming—yang hanya dianggap sebagai hiburan atau salah satu saluran media digital—sudah tidak relevan lagi. Hal ini menunjukkan bahwa industri gaming memiliki potensi yang jauh lebih besar.

Laporan tersebut menegaskan bahwa gaming di Asia Tenggara kini telah bertransformasi dari sekadar industri niche menjadi kekuatan dominan dalam ekonomi konsumen dan media. Perubahan ini memiliki implikasi langsung terhadap cara perusahaan membangun relevansi, menjangkau audiens, serta mendorong pertumbuhan di kawasan ini.

Ampverse memperkirakan bahwa jumlah gamer di Asia Tenggara akan terus meningkat, melampaui angka 330 juta pada tahun 2030, sehingga memperkuat posisi kawasan ini sebagai salah satu pasar gaming yang paling dinamis dan menjanjikan di dunia.

Indonesia membuktikan bahwa pandangan tradisional tentang gaming sudah tidak lagi tepat. Negara ini tidak hanya memiliki jumlah pemain yang terbanyak di Asia Tenggara, tetapi juga menunjukkan bagaimana peran kreator, komunitas, dan relevansi budaya dapat membentuk cara orang menemukan dan mengadopsi game. Bagi merek dan penerbit, peluang di Indonesia lebih dari sekadar skala; ini juga tentang memahami bagaimana membangun dan mempertahankan pengaruh di pasar yang kompleks ini.

Bagi para pelaku bisnis, sorotan utama tidak hanya terletak pada ukuran pasar, tetapi juga pada pergeseran sumber nilai yang sedang berlangsung. Meskipun diperkirakan pendapatan industri gaming akan meningkat dari US$6,6 miliar pada 2025 menjadi US$7,1 miliar pada 2028, laporan ini mencermati bahwa peluang yang lebih besar justru terletak pada ekosistem gaming yang lebih luas. Ini mencakup peran kreator, komunitas, format livestreaming, dan keterlibatan berbasis iklan. Ekosistem yang lebih komprehensif ini diperkirakan akan mencapai US$14 miliar pada tahun 2030, menunjukkan bahwa dampak komersial dari gaming kini melampaui sekadar belanja dalam game.

➡️ Baca Juga: Strategi Badminton untuk Menjaga Sinkronisasi Gerak Tubuh dan Pikiran saat Bertanding

➡️ Baca Juga: Strategi Bisnis Berbasis Nilai untuk Membangun Kepercayaan Pelanggan Jangka Panjang yang Konsisten

Exit mobile version