Trump Ancaman Hancurkan Iran Dalam Waktu Singkat Sebelum Batas Waktu Berakhir

Jakarta – Pada hari Senin, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menegaskan ancamannya untuk melakukan tindakan militer besar-besaran terhadap Iran. Ancaman ini muncul jika Teheran gagal mencapai kesepakatan damai yang menurutnya harus mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz.
“Negara itu bisa lumpuh dalam satu malam, dan malam itu bisa jadi besok,” ujar Trump saat konferensi pers di Gedung Putih, seperti yang dilaporkan oleh ABC News pada tanggal 7 April 2026.
Trump menegaskan bahwa batas waktu terbaru bagi Iran untuk memenuhi tuntutannya adalah hingga Selasa pukul 20.00 waktu setempat, yang setara dengan sekitar pukul 08.00 WIB. Jika Iran tidak merespons, konsekuensinya adalah serangan besar-besaran.
“Setelah tenggat waktu itu, mereka tidak akan memiliki jembatan. Pembangkit listrik mereka akan musnah. Kembali ke era prasejarah,” ungkap Trump dengan tegas.
Dia juga menyatakan bahwa pemerintahnya telah merancang rencana serangan cepat yang dapat dilakukan dalam waktu empat jam.
“Kami memiliki strategi, dengan kekuatan militer yang kami miliki, di mana semua jembatan di Iran dapat dihancurkan sebelum tengah malam besok. Semua pembangkit listrik akan mengalami kerusakan parah, terbakar, meledak, dan tidak dapat digunakan lagi. Penghancuran total dalam waktu singkat, bila kami mau,” papar Trump kepada para wartawan.
“Namun, kami tidak ingin itu terjadi,” tambahnya, menunjukkan harapan untuk menghindari konflik.
Sebelumnya, Trump telah beberapa kali memperpanjang tenggat waktu yang diberikan kepada Iran untuk memenuhi tuntutannya.
Mary Bruce, koresponden Gedung Putih dari ABC News, sempat mempertanyakan apakah serangan terhadap infrastruktur energi Iran tidak akan berdampak buruk pada rakyat sipil. Trump memiliki jawabannya sendiri.
“Apakah itu berarti rakyat Iran yang akan menanggung akibatnya?” tanya Bruce.
“Mereka akan bersedia menderita demi mendapatkan kebebasan,” jawab Trump dengan percaya diri.
Trump juga mengklaim bahwa pihaknya menerima sejumlah pesan yang meminta agar serangan dilanjutkan.
“Kami mendapatkan banyak intersepsi pesan yang berisi, ‘Tolong teruskan pengeboman,’” ungkapnya.
Namun, para ahli memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang dan melanggar hukum internasional, sebuah klaim yang juga diajukan oleh Iran.
Menanggapi hal tersebut pekan lalu, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa pemerintah AS dan militernya akan selalu bertindak sesuai dengan hukum yang berlaku.
➡️ Baca Juga: 5 Resep Kue Lebaran Tanpa Oven yang Mudah Dibuat di Rumah dan Pasti Berhasil
➡️ Baca Juga: SMI Jalin Kerja Sama dengan Danantara untuk Proyek Energi dari Limbah




