Ustaz Adnan Arsal, Tokoh Perdamaian Poso, Meninggal Dunia dengan Warisan Abadi

Ustaz Adnan Arsal, seorang tokoh agama yang sangat dihormati, telah menghembuskan napas terakhirnya pada hari Jumat sekitar pukul 18.30 WIB, di Poso, Sulawesi Tengah. Kehilangan ini merupakan duka mendalam bagi banyak orang yang mengenalnya sebagai sosok penuh kasih dan pengabdian.

Ketua Yayasan Wakaf Amanatul Ummah (YWAU) Poso, Yusrin Ichtiawan, mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam. Ia menyatakan, “Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Dengan izin Allah, ayahanda kita KH Muhammad Adnan Arsal telah kembali kepada Sang Pencipta dengan tenang.” Ucapan belasungkawa ini mencerminkan penghormatan yang tinggi terhadap perjalanan hidup Ustaz Adnan.

Yusrin juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendoakan dan memberikan dukungan selama Ustaz Adnan menjalani perawatan akibat sakit yang dideritanya. Dukungan masyarakat sangat berarti bagi keluarga dan para pengikutnya.

Ustaz Adnan Arsal dikenal luas sebagai sosok yang gigih berjuang untuk menciptakan perdamaian di Poso, daerah yang pernah mengalami konflik berkepanjangan. Perjuangan dan dedikasinya dalam meredakan ketegangan diabadikan dalam sebuah buku berjudul “Muhammad Adnan Arsal: Panglima Damai Poso” yang ditulis oleh Khoirul Anam dan diterbitkan pada tahun 2021.

Setelah konflik mereda, pada tahun 2001, Ustaz Adnan mendirikan Yayasan Wakaf Amanatul Ummah (YWAU) di Kayamanya, Poso, Sulawesi Tengah. Yayasan ini berfokus pada pendidikan Islam, kegiatan sosial, dan pemberdayaan ekonomi umat dengan mengikuti prinsip Ahlussunnah Wal Jama’ah. Inisiatif ini menjadi salah satu warisan abadi dari pemikiran dan perjuangannya.

Kepergian Ustaz Adnan bukan hanya kehilangan seorang tokoh agama, tetapi juga kehilangan sosok yang menjadi penenun harapan bagi masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya Poso. Dalam ingatan kolektif, ia dikenang sebagai individu yang berkomitmen untuk memilih jalan damai di tengah kekacauan dan kekerasan yang pernah melanda daerah tersebut.

Ia pernah dijuluki “panglima,” namun makna panglima yang disematkan padanya bukanlah tentang peperangan. Sebaliknya, Ustaz Adnan merupakan sosok yang berdiri di garis depan penolakan terhadap kekerasan, mengajak semua pihak untuk menemukan solusi damai.

Salah satu pesan yang terukir dalam buku yang membahas perjalanan hidupnya adalah, “Perang tidak akan berakhir dengan kekerasan, tetapi harus diselesaikan melalui dialog yang penuh dengan pengertian.” Pesan ini menggambarkan pandangannya yang mendalam mengenai resolusi konflik.

Di tengah gejolak yang berkepanjangan di Poso, masyarakat menyaksikan bagaimana Ustaz Adnan berperan sebagai jembatan. Ia menghubungkan berbagai pihak, meredakan ketegangan, dan menciptakan ruang untuk dialog yang konstruktif. Keberaniannya memilih jalan damai menjadi teladan bagi banyak orang.

Ustaz Adnan bukanlah sosok yang mengajak orang untuk menyerang. Jika ada perlawanan, itu adalah untuk mempertahankan diri. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengajak semua pihak duduk bersama dan mencari solusi yang manusiawi, mengutamakan dialog sebagai jalan keluar dari permasalahan yang ada.

Dengan kepergian Ustaz Adnan Arsal, dunia kehilangan sosok yang bukan hanya seorang pemimpin spiritual, tetapi juga seorang pejuang perdamaian yang tulus. Warisan yang ditinggalkannya akan terus hidup dalam hati dan pikiran masyarakat yang pernah merasakan pengaruh positifnya. Melalui yayasan yang didirikannya dan nilai-nilai yang diajarkannya, Ustaz Adnan akan selalu dikenang sebagai simbol harapan dan kedamaian.

➡️ Baca Juga: Keenan Nasution Cabut Kasasi Nuansa Bening dengan Ikhlas dan Sukarela tanpa Paksaan

➡️ Baca Juga: 5 Aktivitas Seru untuk Menghabiskan Waktu Bersama Keluarga

Exit mobile version